Booster ASI dengan Tanaman Ini

TORBANGUN

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR-hZwiWYflcLRiTgj7v4SP3GcVcQMwhpjUYQISxNTqIvgs7C1k

Daun torbangun, atau jintan, tidak asing bagi beberapa ibu di wilayah Sumatera Utara. Daun yang segar, tidak tipis dan berwarna hijau, bersama permukaan daun licin, punyai aroma yang khas. Mengutip Wikipedia, rasanya digambarkan serupa oregano, juga layaknya daun mint.

Daun tumbuhan aromatik ini dimanfaatkan sebagai sayuran, untuk masakan sup. Sayuran ini juga dikenal bisa tingkatkan memproses ASI.

Tumbuhan daun torbangun atau daun jintan adalah terna tahunan, yang dulu diidentifikasi sebagai tumbuhan abadi semisukulen di keluarga Lamiaceae. Tumbuhan asli Afrika Selatan dan Timur ini banyak dibudidayakan dan dinaturalisasi di area lain di area tropis, dan dimanfaatkan sebagai obat, tanaman rempah, dan tanaman hias.

Masyarakat Sumatera Utara mengkonsumsi daun torbangun, atau yang lebih dikenal bersama nama bangun-bangun ini. Biasanya dijadikan sup, yang dimasak bersama gunakan santan kelapa. Daun bangun-bangun membawa persentase seng, zat besi, kalium, dan magnesium yang bisa tingkatkan berat badan pada bayi.

Daun torbangun (Coleus amboinicus, Lour.) bisa menjadi laktagogum untuk tingkatkan kualitas dan jumlah air susu ibu (ASI). Torbangun lebih efisien dibandingkan laktagogum lain dan tidak tersedia pengaruh samping, supaya safe untuk ibu dan bayi. Di Sumatera Utara, torbangun harus dikonsumsi ibu yang baru melahirkan sampai 30 hari.
Tumbuhan torbangun menurut Wikipedia berasal berasal dari Afrika Selatan dan Timur, berasal dari Afrika Selatan (KwaZulu-Natal) dan Swaziland sampai Angola dan Mozambik, dan utara sampai Kenya dan Tanzania. Biasanya tumbuh di hutan atau semak pesisir, di lereng berbatu dan berpasir, atau tanah berpasir di dataran rendah.

Dari Afrika Selatan, tumbuhan ini dibawa orang-orang Arab dan pedagang lain ke Arab, India, dan Asia Tenggara di selama jalur perdagangan maritim Lautan India. Tumbuhan ini lantas dibawa ke Eropa, dan lantas berasal dari Spanyol ke Amerika. Di Amerika, daun ini lantas disebut thimi Spanyol.

Tumbuhan torbangun dikaitkan bersama sifat antiseptik, antimikroba, pencernaan, karminatif, perut, antelmintik, deodoran, diuretik, appetizing, dan tonik. Biasanya digunakan untuk mengobati masalah saluran pernapasan sebagai bronkodilator, antitusif, dan ekspektoran.

Sifat antiseptik dan antimikroba tumbuhan sudah dikaitkan bersama adanya senyawa layaknya carvacrol, timol, flavon, fenol, tannin, dan asam aromatik. Daunnya secara tradisional digunakan untuk pengobatan batuk, sakit tenggorokan dan hidung tersumbat, tapi juga untuk bermacam kasus lain layaknya infeksi, rematik, dan perut kembung.

Tanaman ini dibudidayakan di kebun rumah di semua India untuk digunakan di dalam pengobatan tradisional, digunakan untuk mengobati demam malaria, hepatopati, kalkuli ginjal dan vesikal, batuk, asma kronis, cegukan, bronkitis, helminthiasis, kolik, kejang, dan epilepsi.

Pengobatan tradisional India lain juga memanfaatkannya layaknya untuk ulserasi kulit, gigitan kalajengking, alergi kulit, luka, diare, bersama penekanan pada daun yang digunakan sebagai hepatoprotektif, untuk tingkatkan kebugaran hati.

Di Indonesia daun torbangun atau jintan adalah makanan tradisional yang digunakan di dalam sup untuk merangsang menyusui selama satu bulan sehabis melahirkan. Di Kamboja daunnya dibikin jus dan lantas diberikan kepada anak-anak sebagai pemberian berasal dari pilek, dan daun dioleskan ke bibir.

Di Bahia, Brasil, orang gunakan tanaman ini untuk mengobati lesi kulit yang disebabkan oleh Leishmania braziliensis. Di sebelah utara, di Paraiba di negara yang sama, tanaman ini biasa digunakan untuk pengobatan di rumah.

Profesor Dr Rizal Damanik, dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), meneliti daun torbangun secara menyeluruh sejak tahun 2001. Hasil penelitiannya membuktikan mengkonsumsi daun torbangun bisa membantu ibu yang sedang hamil atau menyusui memproses air susu lebih banyak dan lebih memiliki kualitas bagi bayinya. Prof Rizal memperoleh penghargaan paling baik ke dua berasal dari Kementerian Pendidikan Nasional atas penelitiannya itu.

“Tradisi itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun dan sampai sekarang tetap tetap dipraktikkan oleh penduduk Batak di mana pun mereka berada,” katanya, layaknya dikutip berasal dari Antara, 16 Juli 2010.

Produksi ASI ibu menyusui yang mengkonsumsi sayur torbangun lebih banyak secara nyata dibandingkan memproses ASI ibu menyusui yang mengkonsumsi Moloco+B12 (laktagogum yang biasa dikonsumsi ibu menyusui di kota-kota besar di Indonesia), atau Fenugreek yang merupakan laktagogum di negara Eropa/Amerika.

Konsumsi sayur torbangun tidak hanya memberikan pengaruh positif bagi kebugaran ibu menyusui, tapi juga bagi bayi yang disusui oleh ibu yang mengkonsumsi sayur torbangun. Menurut Prof Rizal Damanik, hal itu tercermin berasal dari beberapa indikator layaknya berat badan, lingkar kepala, lingkar dada, dan angka kesakitan berasal dari bayi yang lebih baik.

Prof Rizal memperkenalkan penelitiannya di dalam acara First 1000 Days Australia Summit, di Brisbane, Australia. Pertemuan itu menghadirkan sejumlah praktisi, ahli kesehatan, ilmuwan, pekerja sosial, untuk mencukupi kebutuhan kebugaran suku Aborigin dan Torres Strait di Australia, berasal dari merasa sebelum saat konsepsi, atau bertemunya sel telur dan sperma, janin, sampai bayi berusia dua tahun.

“Tanaman ini aku share bersama orang-orang Australia, karena tanaman ini juga terkandung di Australia,” katanya pas dihubungi Erwin Renaldi berasal dari ABC di Melbourne pada 19 Oktober 2017, layaknya dikutip australiaplus.com.

“Penelitian ini sudah dibuktikan secara sains tidak hanya tingkatkan jumlah air susu, tapi juga banyak khasiat untuk pertumbuhan bayi dan ibunya bersama indikator medis,” katanya.

Penelitian tentang khasiat daun torbangun (Coleus amboinicus, Lour.) sebagai peningkat memproses air susu ini sudah mendapat pernyataan internasional. Penelitian itu masuk di dalam keliru satu chapter di buku pegangan Handbook of Dietary and Nutritional Aspects of Human Breast Milk yang diterbitkan di Belanda.

“Torbangun memiliki kandungan sepuluh komponen aktif yang saling mengikat, antara lain asam lemak rantai ganda, kelompok sterol, dan aldehid. Itu membuat meningkatnya jumlah dan kualitas ASI,” kata Rizal Damanik, dikutip berasal dari Kompas pada 11 Desember 2013.

Pemerian Botani TanamanTorbangun

Tumbuhan torbangun dikutip berasal dari ipb.ac.id secara umum dikenal sebagai daun jintan. Tumbuhan ini masuk ordo Solanes, famili Labiatae, dan genus Coleus.

Tumbuhan torbangun menyerupai semak. Tumbuhan ini tidak berumbi, percabangan agak berwujud galah, dan berbulu halus.

Daun berhadapan, tunggal, tebal, berdaging, bulat telur melebar, agak bundar atau berwujud layaknya jantung. Permukaan atas daun berbulu halus tersebar dan pada bagian pertulangannya berambut panjang. Tepi daun beringgit kasar sampai bergigi jikalau pada bagian pangkal.

Pada situasi segar, helaian daun tebal, berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol, berwarna hijau muda dan ke dua permukaan berambut halus berwarna putih. Pada situasi kering, helaian daun tipis dan amat berkerut, permukaan atas kasar dan berwarna cokelat, permukaan bawah berwarna lebih muda dan permukaan kasar, serta tulang daun kurang menonjol.

Tumbuhan yang punyai nama ilmiah Coleus amboinicus, Lour. ini, dikutip berasal dari balitnak.litbang.pertanian.go.id, bisa dijumpai hampir di semua wilayah Indonesia bersama nama berbeda-beda. Di area Sunda, dikenal bersama nama ajeran atau acerang, pas di area Jawa dikenal bersama nama daun kucing. Berbagai nama lokal lain ialah daun kambing atau majha nereng (Madura), iwak (Bali), kunu etu (Timor), sukan (Melayu).

Tumbuhan ini hidup kurang lebih 3-10 tahun, dan banyak terkandung di Afrika Tropis, Asia, Australia. Tumbuhan ini sudah lama digunakan secara tradisional sebagai makanan, aditif pakan ternak, dan khususnya sebagai obat bermacam macam penyakit.

Torbangun Leaves

Author: Randy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *